Enthirea: Pertempuran Dua Dunia


Enthirea

Resensi oleh sakurazaki90

Enthirea: Pertempuran Dua Dunia
Pengarang: Aulya Elyasa
Editor: Faiz Ahsoul
Penerbit: Copernican
Tahun terbit: Mei 2008
Jumlah halaman: x+290
Genre: fantasy, adventure, war, romance, tragedy
Rating: Remaja
Harga: Rp 40.000,- (bisa berubah sewaktu-waktu)

Sinopsis

…”Druid adalah makhluk campuran antara Elf dengan manusia. Dulu mereka memiliki kota yang sangat besar bernama Druidi, tetapi sudah dihancurkan oleh Orgath 1.000 tahun yang lalu. Kekuatan para Druid berasal dari alam, mereka mampu bicara dengan alam. Bahkan kami para Elf tidak dapat melakukan hal itu.”

“Druid memiliki umur yang panjang. Tapi tidak sepanjang kami bangsa Elf. Dan kau terlihat masih sangat muda Asynia, katakan berapa usiamu?”

“Kau betul Isfar, aku baru berusia 150 tahun. Masih sangat muda dibanding Druid moyangku.”…

(Ingin tahu cerita selanjutnya, baca Enthirea “Pertempuran Dua Dunia”. Sebuah kisah fantasi yang bisa membuat khayalan jadi kenyataan)

Saya bilang, sinopsis Enthirea kurang nendang (emangnya mo taekwondo :mrgreen: ). Sejarah Druid dan umur panjangnya… What’s so interesting about it, anyway? Kenapa yang dijadiin sinopsis bukan pertempuran lawan tentara Orgath yang lebih seru, gitu? :?

Seorang anak muda yatim piyatu bernama Elyaz mendapatkan warisan dari ayahnya. Warisan itu adalah sebuah medali yang sangat indah. Setelah Elyaz memakai medali itu di lehernya, banyak kejadian aneh yang terjadi.

Mulai dari mimpi buruk yang menghantui sampai pamanya yang menghilang secara misterius.

Sehingga pada suatu hari saat Elyaz sedang berburu ia menemukan kota elf. Di sana ia mengetahui suatu kenyataan bahwa medali itu hanya dapat di pakai oleh seseorang yang terpilih untuk melindungi Enthirea dari dewa kegelapan Orgath.

Semenjak saat itu Elyaz mulai mengetahui tentang dirinya. Dan bagaimana ia harus memenuhi takdir yang telah di tuliskan untuknya. Seiring petualanganya memenuhi takdir dan menyelamatkan Enthirea, Elyaz juga merasakan cinta dan persahabatan untuk pertama kalinya.

Elyaz juga harus menemukan para pelindung yang lain, untuk menggabungkan kekuatan dalam pertempuran melawan dewa kegelapan.

Apakah bisa Elyaz melakukan memenuhi takdirnya?

Apakah Elyaz akan dapat memperoleh cinta sejatinya?

Apakah bisa Elyaz melindungi Enthirea dari kehancuran?

Sinopsis yang saya ambil dari blog-nya Mas Elyasa. Entah kenapa pas terbit, diganti jadi sinopsis yang nggak nendang itu. Menurut saya, sinopsis yang ini jauh lebih bagus 8-)


Final_Fantasy_V_Active_Time_Battle_screenshot

Final Fantasy V (Super Famicom)

Cover

Cover Enthirea ini bukan tipe cover novel favorit saya, jadi maaf kalau komentarnya semena-mena. Saya pribadi lebih suka cover tipe lukisan kanvas yang warnanya lembut (cover Harry Potter versi Indonesia, misalnya).

Gambar nggak begitu masalah. Nah, the main problem is… Pewarnaan. Entah kenapa, saya mencium aroma-aroma jadul di sini. Warna-warna dengan efek gelap begini membuat saya teringat dengan game awal tahun 90’an. Old school RPG :mrgreen:

Berpotensi Jadi Novel yang Mengocok Emosi

Seperti yang udah saya cantumkan di bagian genre, ada kata “tragedy”. Ya, di buku ini cukup banyak orang yang tewas… That’s good, actually (walau saya sempat ngomong, “Ini pembantaian!”). Tandanya Mas Elyasa nggak sayang buat ngebunuh ‘anak-anaknya’ sendiri.

Saya sering kesal sendiri sama pengarang yang suka setengah-setengah dalam menentukan nasib karakternya. Misalnya si X diceritakan jatuh dari tebing ketinggian berapa ratus meter (mestinya mati tuh). Tapi beberapa episode kemudian dia muncul lagi, dalam keadaan sehat walafiat! Huff, talk about luck… Memang sih, di Enthirea ada satu orang yang mati, eh ujung-ujungnya ternyata hidup lagi (tapi itu kan gara-gara campur tangan si Orgath, jadi dimaafkan).

Yakk, balik lagi ke tragedi… Kata orang, novel yang bagus adalah novel yang mampu mengocok emosi pembacanya. Kalau tragedi, tentu yg dijual adegan-adegan menyedihkan. Dalam hal ini, Enthirea hampir memenuhi syarat itu :D Dengan adanya karakter yang mati, pasti pembacanya ngerasa sedih, dong?

Tapi… Sayangnya perasaan itu nggak saya alami. Saya nggak merasa kesedihan yang gimana banget dan nggak ngerasa kehilangan. Ada apa ini? Apa saya nggak normal? :(

Eits, tunggu dulu… Saya bilang begitu karena saya penganut paham “show, not tell”. Yang ikut forum-forum writer pasti tahu soal ini.

Di Enthirea, saya banyak menemukan adegan yang “tell”, bukan “show”. Semisal, si X lagi sedih karena ditinggal mati si Y. Apakah dia menangis seharian, mimpi didatangi arwah si Y, mengurung di kamar, selalu sedih kalo liat barang peninggalan si Y, ato nggak ada nafsu makankah?

Di Enthirea kurang didalami gimana perasaan hatinya si X. Ya, si X memang sempat menangis di pelukan si Z, tapi setelah itu done. Nggak ada lagi adegan yang menggambarkan kehilangan si X akan si Y. Bahkan setelah kejadian itu, si X terlihat biasa-biasa saja tanpa ada hint nelangsa. Situasi yang mestinya ikut menyayat-nyayat hati pembaca, jadi terasa agak hambar karena kurangnya pendalaman… Nanti didalami lagi ya, Mas Elyasa :mrgreen:

Alur Kereta Api Express

Serasa naik kereta api express; itulah yang saya rasakan waktu membalik lemba demi lembar Enthirea. Banyak adegan yang berlangsung dengan begitu cepat, bahkan menimbulkan kesan “angin lalu”. Paragraf satu menerangkan adegan X di hari Y, paragraf kedua langsung loncat ke adegan Z di hari A, dan seterusnya. Seperti dipaksakan cepat-cepat. Saya jadi tidak bisa “ikut masuk” ke dalam dunia Enthirea. Belum ada celah buat masuk, udah pindah ke tempat, bahkan hari lain. Entah ini karena pembatasan jumlah halaman dari penerbit, atau karena faktor lain…

Geografis yang Membingungkan

Enthirea Map

Peta Dunia Enthirea

Arah mata angin di dunia Enthirea benar-benar bikin saya pusing… Antara peta sama yang dijelasin di cerita, banyak yang nggak sesuai. Sebagai pedoman, saya kasih contoh gambar mata angin yang benar (yang saya dapat pas googling).

Mata_anginAku berusaha mengingat letak Eslunia. Seingatku kota itu terletak di bawah lembah dengan hamparang padang hijau rumput yang luas. Ada deretan gunung berdiri di belakang kota. Pada waktu pagi matahari memancarkan cahayanya dari arah kiri, berarti Eslunia terletak di barat. Sedangkan dari kemarin aku terus melangkah ke utara, jadi aku harus pergi ke arah barat daya.

Sekedar info, posisi Elyaz ada di Hutan Ereantera yang letaknya di selatan Eslunia. Yang bikin bingung, ‘kan Elyaz jalan ke utara terus, kok nggak ketemu Eslunia? Udah gitu, dia malah mau jalan ke barat daya lagi. Yang ada, bukan ketemu Eslunia, malah nyasar ke Svaltaria. Entah si Elyaz sengaja dibikin buta arah ato gimana, nih? :mrgreen:

Ada satu lagi.

“Dari Eslunia, kita akan berjalan ke utara melewati gunung Ro. Dari situ kita akan berjalan ke arah tenggara sampai kita menemukan mata air Fianha. Perlu aku sampaikan pada kalian, sebelum kita mencapai mata air Fianha, kita akan melewati perbukitan Krana yang terbentuk dari karang yang sangat terjal dan berbahaya. Setelah kita sampai di Fianha, kita akan meneruskan perjalanan ke timur menuju menuju pegunungan Arga, kalian mengerti? Apakah ada pertanyaan?”

Elyaz sama Hriar cuma manggut-manggut aja. Kalo saya jadi Elyaz, saya bakal protes, “Bang Gun, nggak salah tuh?” ;)

Kenapa? Coba bandingin pengarahan Gunsa sama gambar petanya…

Eslunia ke Gunung Ro (maksudnya Miro kali ya…), arah utara. Sejauh ini masih benar. Dari Gunung Ro ke tenggara! Jalan, jalan, jalan… Kok malah balik ke Eslunia lagi!? Ya, okelah, lewatin dulu. Lanjut ke kesalahan berikutnya. Dari Fianha ke timur! Jalan, jalan, jalan… Lho, kok malah ketemu Sungai Elstran??? :shock:

“Bang Gun, sebenarnya kita mau dibawa ke mana, sih? Situasi lagi genting, kita malah muter-muter nggak jelas gini… Nanti Arga keburu dilibas sama Pasukan Kegelapan, lho!” :(

Sebenarnya masih ada dua lagi sih, tapi kayaknya contoh-contoh di atas udah cukup. Ngomongin mata angin melulu, bisa puyeng yang baca ini resensi :mrgreen:

Selain masalah mata angin, ada satu lagi yang mengganjal di kepala saya… Dari yang saya tangkap selama Elyaz jalan kesana-kemari, kok kayaknya dunia Enthirea kecil bener (mungkin kurang-lebih sebesar Pulau Bali doang). Dari Eslunia ke Arga cuma makan waktu empat-lima hari, Erdia ke Esringard juga sama aja (dengan catatan, si Elyaz jalan kaki).

Dan pertanyaannya, “Sebenarnya dunia Enthirea seluas apa? Apakah tempat-tempat yang tercantum di peta itu sudah mencakup keseluruhan Enthirea?”

Strategi Madness

Madness Part 1

(spoiler alert! highlight to read) This is madness!! Dua puluh tiga orang nahan lima belas ribu musuh selama 3 jam!? Mengingatkan akan pasukan Spartan di film 300, eh? :D Tapi ini jauh lebih mad~

Sinting benar Zend ini, dua orang calon penyelamat dunia disuruh melakukan misi bunuh diri begitu (kasihan saya sama Elyaz-Alator-Gunsa plus dua puluh orang lainnya). Menambah ke-madness-an Zend; bukannya suruh Grey nembakin panah ke musuh dulu buat memperingan kerja Elyaz dkk, eh nembaknya malah pas Elyaz dkk udah mundur. Apa gunanya, coba… Iye, iye, itu buat memperingan kerja pasukan Zend yang nunggu di luar benteng musuh, tapi pentingin nyawa penyelamat dunia, dong… (end of spoiler)

Madness Part 2

(spoiler alert! highlight to read) Di Negeri Svaltaria nun jauh di sana, hidup seorang ratu bernama Liervina… Suatu hari, Negeri Eslunia meminta bantuan tentara kepadanya.

“Hoho, tentu boleh. Asal… Kosongin Eslunia! Seluruh wilayah Hutan Ereantera adalah milik saya!! Hohoho!!!” kata Ratu Liervina.

(ini adegan karangan saya, tapi situasinya mirip dengan yang digambarkan di cerita aslinya)

She’s the queen of mad women!

Yah, lupakanlah soal si Liervina. Singkat cerita, orang-orang Eslunia diusir dari tanahnya sendiri. Karena mereka butuh banget bantuan tentara, mereka manut aja. Mereka pusing nyari tempat baru buat tinggal, dan ketemulah… Kota Erdia.

Kota Erdia adalah salah satu markas pasukan kegelapan dengan jumlah pasukan super banyak. Alasan dipilihnya kota itu, karena di sana tempat yang cocok buat tempat tinggal elf. Tapi tetap aja… Mau mengambil-alih kota itu adalah madness… Kenapa mereka nggak ngungsi ke Fianha ato Arga aja? Kan bisa bikin kemah di sono. (end of spoiler)

Madness Part 3

(spoiler alert! highlight to read) Singkat cerita, akhirnya Elyaz dkk berhasil mengambil-alih Kota Erdia. Suatu hari, ada kabar kalo pasukan kegelapan mau menyerang kota itu dengan armada perang berjumlah super banyak. Akhirnya mereka melakukan showdown di suatu padang luas yang kondisi geografisnya sama sekali nggak menguntungkan buat mereka.

Alih-alih melakukan pertempuran di benteng (yang bagus buat defensive), mereka malah cari mati ke padang luas… Mungkin karena takut hutan yg ada di sekeliling benteng dibakar, jadi mereka bisa hangus terbakar? Kalo iya, sertakanlah alasan itu dalam rapat strategi mereka (jangan buat saya menebar kata madness begini :( ). (end of spoiler)

Penutup

Akhir kata, saya menanti kelanjutan Enthirea di buku kedua: Delapan Pelindung. Ending buku satu yang menggantung bikin saya penasaran :mrgreen: Terus berkarya ya, Mas Elyasa :)

Skor: 6/10

7 Responses

  1. Idenya nggak jelek, sih ya….
    Tsuu ka, tapi bener, lubangnya kentara yah…Tokoh utamanya dodols nggak?

  2. Hmm, susah dijawab juga ini… Dodols nggak, jenius banget juga nggak (yah, kecuali fakta kalo si Elyaz bisa menguasai sihir dengan modal belajar 2-3 hari).

    • Tapi di novel lain juga ada kan jagoan bisa belajar magic dalam itungan hari?

      • Kesannya belajar magic gampang bener… Btw, novel lain yg mana? (judulnya)

  3. Yg arah emang gw bingung total sih.

    Hehe.

  4. Kelihatn tuh buku menarik, thanks ya infox!
    Beli ah di gramedia

  5. wuah kykna menarik tuh.. boleh jg di jadiin referensi

Leave a Reply